Kedatangan grup band ternama asal Jakarta, d’Masiv dan Armada dalam agenda Tour ke Aceh mendapat sambutan hangat. Aksi tour ke Aceh kedua grup band ini melakukan konser perdananya secara langsung di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara.
“Kehadiran grup band d’Masiv dan Armada itu mendapat sambutan hangat dan antusiasme yang luar biasa dari segenap masyarakat Agara,” kata Ketua Panitia lokal Ramadhan ST MM, Rabu (21/11) seperti dilansir Berita Sore.
Selain konser di Aceh Tenggara, pada Rabu (21/11) malam nanti pukul 20.00 WIB yang bertempat di Stadion H Syahadat Kutacane, kedatangan grup band dari Jakarta itu juga sempat menarik perhatian banyak masyarakat di sekitar Desa Biak Muli Kecamatan Bambel Agara, saat grup band itu secara simbolis menyerahkan bantuan dan silaturrahmi ke Panti Asuhan Tunas Murni.
“Penyerahan bantuan kepantai asuhan Tunas Murni secara simbolis diserahkan grup band d’masiv serta didampingi grup band Armada,” jelas Ramadhan juga merupakan Sekretaris MPW Pemuda Pancasila Kabupaten Aceh Tenggara.
Ramadhan juga menjelaskan penyerahan bantuan yang dilakukan grup band d’Masiv dan Armada itu merupakan bantuan pribadi dari kedua band tersebut.
Acara Tour Aceh dan konser di Aceh Tenggara yang dilakukan d’Masiv dan Armada itu persiapanya dikoordinir dari seluruh tim manajemen kedua band tersebut dari Jakarta, Kota Medan dan tim lokal dari Kabupaten Aceh Tengggara.
Lebih lanjut Ramadhan juga berharap agar peran serta pemuda Aceh Tenggara dalam menjaga keamanan dan ketertiban saat berlangsungnya konser ini sangatlah penting. Kedepan diharapkan para organisasi kepemudaan di Agara juga dapat melaksanakan berbagai even hiburan yang memang dirasakan bermanfaat bagi segenap masyarakat Aceh Tenggara.[]
Home » Semua post berkategori KUTACANE
Tampilkan postingan dengan label KUTACANE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUTACANE. Tampilkan semua postingan
Banjir yang melanda Aceh Tenggara (Agara)
Sebuah rumah rusak terkena kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang yang terjadi Kamis (12/4) di Desa Rikit Bur Satu, Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara Jumat (13/4).
Foto: SERAMBI/ASNAWI
Laporan Wartawan Seranbi Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, KUTACANE - Banjir yang melanda Aceh Tenggara (Agara) pekan lalu ternyata ikut menyebabkan 50 meter saluran irigasi dan tiga jembatan berkonstruksi kayu maupun beton di Desa Lawe Sempilang, Kecamatan Lawe Alas, ambruk. Akibatnya, jembatan itu sulit dilintasi warga.
Sebagai solusinya, warga setempat terpaksa membangun jembatan darurat yang terbuat dari dua lembar papan untuk bisa menyeberangi sungai.
Ekses lain dari banjir tersebut, 40 hektare (ha) tanaman warga, terdiri atas jagung 10 ha, kakao 10 ha, dan padi 20 ha terendam banjir, sehingga petani setempat terancam gagal panen. Total kerugian akibat banjir pada Kamis (8/4/2012) itu ditaksir lebih dari 1 miliar rupiah.
Hal itu terungkap ketika Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Drs Asmadi Syam pada hari Minggu (15/4/2012) meninjau langsung kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian di desanya itu akibat banjir. Kepala Desa Lawe Sempilang, Muzakir, kepada Serambi mengatakan, atas nama warga desa ia telah meminta kepada Kepala BPBA agar Pemerintah Aceh secepatnya membangun infrastruktur yang rusak akibat banjir itu dengan dana APBN atau APBA.
Muzakir mengisahkan bahwa pada Kamis (8/4/2012) lalu hujan deras mengguyur kawasan Agara, sehingga debit air Sungai Alas meluap dan membanjiri desa mereka, termasuk areal perkebunan rakyat. Akibatnya, tiga jembatan ambruk dan saluran irigasi di Desa Lawe Sempilang, Kecamatan Lawe Alas, rusak parah.
Menurut Muzakir, untuk bisa melintas di atas sungai, terpaksa dibangun jembatan darurat yang terbuat dari dua lembar papan. Jembatan darurat ini sangat sulit dilintasi, apalagi kalau membawa hasil bumi menggunakan sepeda motor.
Selain itu, sepanjang 50 meter saluran irigasi jebol dihantam banjir. Masyarakat di daerah itu berharap kepada pemerintah agar segera memperbaiki infrastruktur tersebut dan membangun tembok penahan permanen sepanjang 1 kilometer dan melebarkan Sungai Alas, karena sungai itu dangkal dan mengecil akibat sering tertimun lumpur dan puing saat dilanda banjir.
Sementara itu, Bank Aceh Cabang Kutacane, Agara memberikan bantuan kepada korban banjir bandang di Kecamatan Bukit Tusam, Minggu (15/4/2012) lalu. Bantuan itu diserahkan melalui staf Bank Aceh Cabang Kutacane atas perintah Kepala Cabang Kutacane yang saat itu sedang berada di luar daerah. Bantuan diterima langsung oleh Camat Bukit Tusam, Samsul Hayat.
Kepala Bank Aceh Cabang Kutacane, Armada, kepada Serambi kemarin mengatakan, keluarga besar Bank Aceh memberikan bantuan beras 15 sak isi 15 kg, mi instan 20 kotak, dan air mineral 20 dus. Menurutnya, bantuan itu sebagai bentuk respons dan kepedulian Bank Aceh terhadap korban banjir di daerah itu. Ia berharap bantuan itu segera dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Puluhan Rumah Rusak Dihantam Banjir Bandang di Kutacane
KUTACANE | DNA - Kamis (12/04/2012) pukul 21.00 Wib Banjir Bandang menerjang sejumlah Desa di Kutacane, NAD. Beberapa desa yang terkena banjir bandang diantaranya desa Sebudi Jaya, Desa Lawe dan Desa Pejuang di Kecamatan Bukit Tusam Kutacane Aceh Tenggara.
Tim Rescue Pos SAR Kutacane dengan 15 Personil pada pukul 21.15 WIB Bergerak menuju Lokasi Kejadian untuk mengevakuasi penduduk desa yang terkena Banjir Bandang.
Jumat (13/4/2012) banjir dilaporkan sudah surut.Tim Rescue Pos SAR Kutacane yang berjumlah 15 personil masih di TKP bersama (TNI 75 orang, Polres Bukit Tusam 100 orang, BPBD 50 orang, PMI 8 orang, Pramuka 30 orang.
Sementara itu tim Tagana berjumlah 20 orang masih menyisir lokasi banjir di desa Kuning II, desa Rikit Bur dan desa Lawe Dua Kecamatan Bukit Tusam. Diketahui 30 rumah Rusak Berat, 70 rumah ketimbun lumpur setinggi 40 cm
Kabupaten Aceh Tenggara
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Aceh Tenggara Lambang Kabupaten Aceh Tenggara.png
Lambang Kabupaten Aceh Tenggara
Motto: SEPAKAT SEGENEP
Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Tenggara.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Tenggara
Koordinat: -
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU No.4/1974
Tanggal 26-juni-1974
Ibu kota Kutacane
Pemerintahan
- Bupati Hasanuddin Beruh
- DAU Rp. 345.178.284.000,-(2011)[1]
Luas 4.231,41 km2
Populasi
- Total 218.111 jiwa [2]
- Kepadatan 51,55 jiwa/km2
Demografi
- Kode area telepon 0629
Pembagian administratif
- Kecamatan 16
- Kelurahan 164
- Situs web http://acehtenggarakab.go.id/
Koordinat: 3°22′ LU 97°41′ BT
Kabupaten Aceh Tenggara adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Kabupaten ini berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, yakni bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan daerah cagar alam nasional terbesar terdapat di kabupaten ini. Pada dasarnya wilayah Kabupaten Aceh Tenggara kaya akan potensi wisata alam, salah satu diantaranya adalah Sungai Alas yang sudah dikenal luas sebagai tempat olah raga Arung Sungai yang sangat menantang. Secara umum ditinjau dari potensi pengembangan ekonomi, wilayah ini termasuk Zona Pertanian. Potensi ekonomi daerah berhawa sejuk ini adalah kopi dan hasil hutan. Dalam bidang Pertambangan, Aceh Tenggara memiliki deposit bahan galian golongan-C yang sangat beragam dan potensial dalam jumlah cadangannya.
Daftar isi
1 Masyarakat
2 sejarah
3 Masa kesultanan Iskandar muda
4 Suku perantau
5 pemekaran
6 makan khas
7 Batas wilayah
8 Referensi
8.1 Sumber
8.2 Pranala luar
Masyarakat
Aceh tenggara lebih multikultural di banding aceh bagian tengah (Aceh tengah, bener meriah dan gayo lues) yakni di diami oleh lebih dari 3 suku yaitu: suku Alas sebagai suku tempatan di kabupaten ini di ikuti oleh suku singkil,Aceh,Karo,Batak,Gayo,Jawa,Minangkabau, Mandailing, Nias dan suku Aneuk Jamee.
Kabupaten ini memiliki suatu keunikan, di mana mempunyai masyarakat yang majemuk tetapi hampir tidak ada terdengar sama sekali kerusuhan yang melibatkan Sara(suku,Agama,dan Ras),masyarakatnya mampu menjaga perdamaian sampai saat ini.[rujukan?]
sejarah
kabupaten Aceh Tenggara adalah pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah,awal berdirinya kab,Agara(kabupaten Aceh tenggara) adalah di mulai ketika pada tgl 06-Desember-1957 terbentuk panitia tuntutan rakyat Alas dan Gayo Lues melalui sebuah rapat di sekolah Min prapat hulu yg di hadiri oleh 60 pemuka adat Alas dan Gayo lues, dan hasilnya adalah. :
1) Ibukota Aceh tengah di pindahkan dari Takengon ke kutacane.
2) jika tidak memungkinkan memindahkan ibukota ke Kutacane,maka kewedanan Alas dan gayo lues di jadikan satu kabupaten yg tidak terlepas dari Provinsi Aceh.
Atas tuntutan itu diadakanlah rapat raksasa di Kutacane yg di hadiri lebih dari 200.000 orang. Akhirnya pada tanggal 26-juni-1974 kab,Agara di resmikan oleh mentri dalam negeri H,Amir machmud sebagai kabupaten yg terlepas dari kabupaten Aceh tengah,sekaligus diangkatlah Bupati pertama yakni (Alm) H,syahadat.
Masa kesultanan Iskandar muda
sebelum datangnya Pengaruh Kesultanan Aceh tanah Alas sudah mengenal yang namanya sistem Kerajaan yang di mulai dengan kerajaan mbatu bulan yang di dirikan oleh Raja lembing anak dari Raja lotung dari Tanah Samosir Laut yang di ikuti oleh berdirinya kerajaan Bambel, dan kerajaan mbiak moli. Berbeda dengan daerah inti Kesultanan Aceh Darussalam yang memimpin setiap Mukim adalah Ullebalang, Di Tanah Alas dan Gayo Lues tidak mengenal sistem Mukim melainkan Kejuruan yang masing-masing kejuruan di perintah oleh Geuchik yang langsung bertanggung jawab kepada Sultan di ibu kota kerajaan Banda Aceh. pada masa Sultan Iskandar Muda Tanah Alas di bagi menjadi Dua kejuruan yakni kejuruan Bambel dan Kejuruan Mbatu bulan yang masing-masing kejuruan telah mendapatakan Cap Sikureung dari Kesultanan Aceh Darussalam selain cap sekureung Sultan Iskandar Muda juga memberikan sebuah Bawar Pedang(sejenis Tongkat komando).
Suku perantau
yang di maksud suku Perantau adalah suku Minangkabau, bagi suku Alas etnik Minangkabau sudah tidak asing lagi bagi Tanah Alas, Bahkan menantu Raja Lembing pendiri kerajaan mbatu bulan adalah pria minang dari pariaman Yang bernama Raja dewa dia adalah penyiar Agama Islam yang pertama di Tanah Alas, untuk mempercepat proses pengislaman Rakyat Alas, Raja dewa dan Raja Lembing membuat suatu prastasti di daerah desa mbatu bulan sekarang, di mana Raja dewa akan menikahi putri sulung dari Raja lembing dan Raja lembing akan memberikan takhta kerajaan mbatu bulan ke Raja Dewa, Tetapi sayang keturunan Minangkabau di Tanah Alas harus berhenti di raja dewa, di akibatkan sistem adat Minangkabau, yang menarik garis keturunan dari Ibu.
Barulah pada zaman kemerdekaan Terjadi kembali Transmigrasi secara besar-besaran dari daerah Pariaman pesisir, permukiman Minang di Kabupaten Aceh Tenggara masih ada sampai sekarang terbukti dengan adanya Desa Trandam dengan populasi Terbesar di kab,Agara di ikuti Dengan Desa Pasar belakang, desa strak pisang, dan kota Kutacane.
Suku perantau lainnya adalah suku Jawa yang sekarang bermukim di desa purwodadi, dan pada Akhir-akhir ini etnis pendatang bertambah kembali dengan datangnya Suku Sunda dari Provinsi Jawa Barat.
pemekaran
pada tanggal 10-April-2002 terjadi kembali pemekaran di tubuh Aceh tenggara yakni berdirinya kabupaten yang baru Kabupaten Gayo Lues dengan ibu kota Blangkejeren.Kabupaten baru ini menguasai hampir 57% wilayah induk yang lama yakni Kabupaten Aceh Tenggara, karna mempunyai daerah yg bergunung-gunung membuat kabupaten Gayo Lues menjadi kabupaten terisolasi di provinsi Aceh kabupaten baru ini amat tergantung dari suplai bahan-bahan pokok dari Kutacane sebagai kabupaten induknya yg lama. Titel sebagai penghasil Tembakau terbesar di Provinsi Aceh pun harus rela di berikan oleh Aceh tenggara kepada Kabupaten Gayo Lues, karena daerah penghasil Tembakau, Blangkejeren,Trangon, dan Rikit Gaib telah Masuk ke kabupaten baru ini.
makan khas
di aceh tenggara terkenal dengan makanan khas seperti chimpe,gelame,puket, labar, penget, pacik kule, ikan bohan (duri lunak), dll.
Tim SAR Masih Cari Korban Banjir Aceh Tenggara
Tim SAR Masih Cari Korban Banjir Aceh Tenggara
WartaAceh.com | Aceh Tenggara – Tim SAR kembali melanjutkan empat warga hilang setelah banjir bandang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara.
“Pagi kami kembali menyisir kawasan sungai untuk mencari empat warga korban banjir yang belum ditemukan,” kata Kepala Pos SAR Aceh Tenggara Juanda yang dihubungi, Selasa (21/8/2012).
Sebanyak enam warga dilaporkan menjadi korban akibat banjir bandang menerjang kawasan pegunungan Leuser pada Jumat (17/8/2012) malam, dan dua di antaranya ditemukan tewas.
Juanda menyebutkan, tim pencarian yang juga melibatkan personil TNI dan Polri serta elemen lainnya melakukan penyisiran dari lokasi awal banjir hingga ke beberapa sungai kawasan tersebut.
Sementara itu, sejumlah desa yang sebelumnya sempat terisolir karena ruas jalan tertutup material yang dibawa banjir, kini sudah normal setelah sebuah jembatan darurat dibangun dan pembersihan dilakukan prajurit TNI.
Juanda juga menyebutkan, ratusan jiwa korban banjir yakni dari desa Sepakat, Naga Timbul dan Yang Pangi yang sempat mengungsi di stadion sepakbola Kutacane, kini kembali ke desanya masing-masing.
“Sebagian besar mereka kembali ke desanya melakukan pembersihan puing-puing dan memperbaiki rumahnya yang rusak diterjang banjir,” kata dia menambahkan.
Sebagian besar rumah penduduk yang diterjang banjir bandang itu terbuat dari material kayu, selain juga semi permanen.
Juanda menyebutkan dari hasil pendataan diketahui jumlah rumah penduduk yang mengalami rusak ringan dan parah diterjang banjir bandang itu sebanyak 70 unit.
Aceh Tenggara merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang wilayahnya berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.[]
Jembatan rusak
Kutacane – Tiga Desa dalam wilayah Kecamatan Bambel Aceh Tenggara kini mulai kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari akibat transportasi menuju Desa Liket, Desa Tualang Sembilar, Desa Terutung Payung, kini lumpuh sejak dua pekan lalu.
Lumpuhnya jalur transportasi menuju tiga desa tersebut, akibat Jembatan Rikit yang menghubungkan Pajak Kuning dengan tiga wilayah berpenduduk hampir 1.000 Kepala Keluarga itu, ambruk dan tidak dapat dilalui oleh kenderaan baik roda empat atau roda dua.
Pantauan koran ini, Selasa kemarin, warga yang melintas harus berjalan kaki. Sementara bagi pengendara sepeda motor harus dibantu warga sekitar untuk mendorong kenderaannya melintas diatas jembatan darurat yang dibuat warga.
Informasi dihimpun koran ini, jembatan tersebut ambruk sesaat setelah Bupati Aceh Tenggara H Hasanuddin B dan rombongan melintasi jembatan menuju Desa Terutung Payung Jumat pekan lalu.
Ambruknya jembatan berlantai papan ini akibat Truck Fuso dengan muatan material bangunan berupa semen untuk proyek Poskesdes (Polindes) didesa Liket. Akibatnya warga tiga desa kesulitan mengangkut bahan-bahan kebutuhan pokok dari pajak Kuning.
Seperti yang diungkapkan Syahril, Kepala Desa Rikit, Kecamatan Bambel kepada koran ini, kemarin menyebutkan sudah lebih dari satu pekan jembatan tersebut ambruk. Namun belum ada perhatian dari
pihak terkait.
Bahkan Kepala Desa Rikit ini juga mengakui sudah menyampaikan hal ini kepada Bupati Aceh Tenggara dalam kunjungannya ke Desa Kuning Satu, pada acara penyerahan kios di pajak setempat kepada masyarakat.
Saat itu Bupati menyambut dan menyikapi laporan Kades tentang kondisi jembatan. Ironisnya hingga berita ini diturunkan jembatan Rikit belum mendapat perhatian sehingga krisis kepercayaan terhadap pimpinan daerah pun mulai terdengar ditengah masyarakat.
“Pada pertemuan dengan Bupati saat penyerahan kios di Pajak Kuning, Kamis lalu, saya selaku salah seorang kepala desa sudah menyampaikan persoalan ambruknya jembatan desa kami kepada Bupati. Dan saat itu juga memberikan perintah kepada salah seorang rekanan untuk segera memperbaiki jembatan tersebut. Namun hingga hari ini belum ada realisasinya.
Jangan-jangan ini hanya sandiwara yang berbentuk perintah semata,” tandas Syahril, Kepala Desa Rikit.
Syahril dan masyarakat hanya berharap agar jembatan tersebut segera mendapat perhatian sehingga keterisoliran tidak sempat mendera warga, meskipun diakui ada jalur alternative namun tidak sebaik dan sedekat jalur yang kini lumpuh. (amn)
Langganan:
Postingan (Atom)

